-->
Air

Wednesday, March 7, 2012

Heaven Between You And Me ツ


Kincir itu.. berputar selaras angin berhembus. Berputar dan terus berputar. Menyatukan merah,kuning, hijau yang ada di situ. Tiupan angin di bukit itu, sudah lama tak kurasakan. Setelah 7 tahun kurang lebih, tak pernah aku kembali ke bukit ini. Semenjak aku harus pergi untuk tinggal sementara bersama bunda. Di tempat ini aku teringat, ketika aku berlari dan berlari untuk melampiaskan kesedihan karena orang tuaku tidak bisa bersama lagi.
“Sudahlah Lana, janganlah kamu menangis”, suara anak laki-laki berambut coklat yang tinggal tak jauh dari bukit ini, tak pernah kulupakan. Namanya Kenzie, lebih tepatnya Kenzie Javana. Dia adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin kembali ke bukit ini. Dia yang bisa membuatku kembali tersenyum untuk melihat ke depan.
Kenzie dan aku selalu melakukan hal bersama semenjak kita berteman. Dia mengajariku bagaimana bermain layang-layang, mengajariku memanjat pohon, dan banyak hal lain yang telah dia ajarkan kepadaku. “Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita, janganlah kita bersedih, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang” itu kata-kata Kenzie yang selalu menjadi pelajaran terbaik untukku.
Kau tahu? Kenzie juga memiliki alur hidup yang hampir sama denganku. Orang tua Kenzie sudah tidak bisa tinggal bersama lagi. Aku juga tahu, bagaimana sebenarnya hati Kenzie saat dia mengetahui orang tuanya berpisah. Aku yakin perasaan itu seperti apa yang aku rasakan. Berat rasanya menghadapi kejadian itu, dan kata-kata “ Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita, janganlah kita bersedih, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang” menjadi penyemangat untukku hingga sekarang.
Berjalan menyusuri bukit ini, membawaku kepada memori kecil saat aku melakukannya bersama Kenzie. Pohon-pohon itu, bunga-bunga itu, rumput-rumput itu melambai-lambai kepadaku. Jalan ini merupakan jalan yang ditunjukkan Kenzie kepadaku untuk menuju rumahnya. Sampai sekarang, aku masih ingat betul dimana rumah Kenzie dan Bundanya yang selalu baik kepadaku. Sambil menggendong Teddy, boneka dari Kenzie, aku mencari tempat tinggal Kenzie. Aku sudah ingin sekali bertemu dengan Kenzie.
 Kuputari tempat itu 8x untuk memastikan letak rumah itu. Tetapi, apakah aku salah ? Kenapa rumah Kenzie tidak ada?
Rumah sederhana berhiaskan bunga tulip disekitarnya dan juga beberapa pohon pinus disekitarnya, tak kunjung aku temukan. Yang ada hanyalah tumpukan tanah yang rata. Aku bingung. Aku bingung kenapa rumah itu tidak ada disitu. Aku berputar lagi mengitari tempat itu dan aku pastikan bahwa itu letak rumah Kenzie 7 tahun yang lalu.
***
Semua hal yang telah kutemui tadi membuatku bingung. Rumah itu yang telah membuatku memutar otak berkali-kali. Jika benar Kenzie sudah tidak tinggal di rumah itu, tapi mengapa Kenzie tak pernah memberitahu aku jika dia telah pindah ? apakah dia lupa ?
Dialah satu-satunya orang yang telah membuatku ingin kembali ke tempat ini. Aku rindu senyumannya, aku rindu candanya, aku rindu apa saja yang ada pada dirinya. Tapi, setelah aku kembali ke tempat ini, aku tak bisa menemuinya, tak bisa mendengar suaranya, dan tak bisa memeluknya.
Aku sedih, aku sedih kenapa aku harus merasakan sedih lagi setelah aku bisa tersenyum. Kupeluk erat-erat Teddy pemberian Kenzie. Tak tahu kenapa air mata mengalir dari kedua mata ini. Kenangan bersama Kenzie selalu muncul dalam tetes air mata ini. Sungguh, aku rindu betul dengannya.
Ada satu hal yang membuatku kuat. Kuhapus air mata di pipi ini, aku harus yakinkan diriku bahwa aku bisa menemukan Kenzie. Aku bisa bertemu, berbincang, dan bercanda dengannya lagi. Aku yakin itu. Aku yakin.
***

Aku mengayuh sepeda ungu pemberian ayah. Bersama Teddy, aku akan mencari Kenzie kembali. Suara gemerisik dedaunan jati itu, tak pernah asing bagiku. Dulu, bersama Kenzie, Aku sering bersepeda menuruni bukit dan mendengar gemerisik dedaun cemara itu. Ya, hal itu mengingatkan aku kembali kepada Kenzie. Aku harus menemuinnya!
Aku pergi menuju rumah pohon yang dulu kami buat bersama. Ya, rumah pohon itu. Rumah pohon yang dikelilingi rerumputan hijau yang sangat indah. Tempat itu menjadi tempat favorit aku dan Kenzie. Dulu, kami banyak menghabiskan waktu di tempat itu untuk bermain, bercerita, tertawa, dan menangis.
“Arrived!”, ucapku. Sampailah aku di rumah pohon tempat kami biasa menghabiskan waktu. Tempat ini masih sama seperti sebelum aku pergi 7 tahun lalu. Tempat ini bersih dan tata ruangnya masih sama seperti dulu. Foto-foto saat kami bersama, masih terpapang di dinding kayu. Di pojok utara itu, tempat favoritku untuk bersandar melihat rerumputan hijau di sekitar. Aku senang, senang sekali. Aku senang dapat kembali ke tempat favorit kami yang masih indah setelah lama kutinggalkan. Aku yakin, Kenzie telah merawat tempat ini agar tidak rusak dan aku yakin jika Kenzie belum lama pergi.
Aku duduk di pojok utara rumah pohon itu, dan aku teringat akan lagu yang kami buat. Lagu itu membawaku mengingat kejadian yang kami lewati bersama
I always be with you my friend..
I will never leave you alone, never leave you
I promise you, don’t go a way althought we are a part
Sometimes we walk alone, but belive our promise
that we always be best friend forever   
Ku nyanyikan lagu itu berulang-ulang. Setelah kupikir, lagu itu... lagu itu dapat membuatku tertawa dan senang. Aku ingat saat kami buat lagu itu, tidak dapat sedikitpun kita berhenti tertawa. Kita buat lagu itu saat kita bersandar di pohon pinus dekat rumah Kenzie. Kenzie lah yang mengajakku membuat lagu tentang kami.
Setelah aku berhenti tertawa, aku ingat akan tujuanku menghampiri rumah pohon ini. Di rumah pohon itu, aku mencari petunjuk. Mungkin, aku bisa menemukan tempat tinggal Kenzie di situ. Aku tersenyum seketika ketika melihat kotak rahasia kami berdua. Kotak kayu itu aku buka. Seketika aku tertawa. Aku melihat banyak rahasia kami yang kami tulis di kotak itu. Ini membuat aku dan Kenzie selalu terbuka dan tak pernah ada rahasia di antara kami.
Dari pojok utara ke selatan, aku tidak menemukan satupun petunjuk yang dapat membawaku ke Kenzie. Aku sedih. Aku tidak dapat menemukan Kenzie lagi. Dimana dia sekarang? Kenapa kau tidak memberitahu aku?
***
Aku kembali ke bukit tempat biasa kami menghabiskan waktu. Bersandar di rerumputan bukit, memandang kincir yang berputar, mendengar gemerisik dedaunan, menyanyikan lagu buatan kami, itulah hal yang aku lakukan. Setidaknya, aku bisa merasakan Kenzie berada di dekatku. Bersamaku melakukan hal yang biasa kami lakukan bersama.
Aku terbangun dari rerumputan itu. Aku berdiri dan menghirup nafas panjang.“Kenzie, apakah kau mendengar suaraku? Dimana kamu? Kenapa kamu tak pernah memberitahu aku kenapa kamu pergi? Kenapa?” aku teriak sambil menyebut kalimat itu. Dedaunan bergemerisik lebih kencang. Gemerisik dedaunan itu, aku yakin Kenzie mendengar suaraku.
Aku tersenyum kepada dedaunan yang telah menyampaikan jawaban Kenzie kepadaku. Kudekap Teddy erat-erat, aku bayangkan itu adalah Kenzie Javana, sahabatku. Aku merasakan jika Teddy juga tersenyum padaku.
***
Tepatnya sudah seminggu aku mencari Kenzie. Aku luangkan hari itu untuk membersihkan kamar yang sudah kutinggal selama kurang lebih 7 tahun itu. Kurapikan selimut, meja belajar, dan rak buku. Kupandangi foto bersama kedua orang tuaku. Aku harap, aku bisa merasakan dekapan mereka berdua. Kuteruskan membereskan kamar tidur sewaktu aku kecil. Saat kubuka rak meja belajarku, kulihat sepucuk surat berwarna biru muda. Surat biru muda yang aku dapat, biasanya dikirim oleh Kenzie, dan aku lihat surat itu belum kubuka. Kenapa aku merasa tidak pernah menerima surat ini? Tapi, hal itu hanya terlintas dan hilang dibenakku. Dengan segera, aku membuka surat biru muda yang aku yakin bahwa Kenzie lah yang mengirimkannya.
2 Januari 2007
Dear my beloved bestfriend
Lana Kirana

Hey Lana! Apa kabar ? aku harap kamu sehat selalu disana. Aku dan bunda di sini sehat-sehat saja.
Apakah wajahmu berbeda? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku yakin kamu sudah bertambah tinggi menyamai tinggiku sekarang. Aku harap, jika kita bertemu, aku tidak lupa denganmu.
Lana, aku mau ngasih tau, aku sudah pindah. Rumahku berhias bunga mawar sekarang. Merah dimana-mana. Aku rasa, rumahku seperti ketumpahan banyak sekali bunga mawar. Walaupun begitu, Aku suka dengan rumahku sekarang J
Rumahku masih terletak di sekitar bukit tempat kita selalu bermain bersama. Jika dilihat dari rumah pohon kita, arahnya ada di pojok utara, tempat favoritmu.
Aku ingin sekali bertemu denganmu. Sungguh.
Aku harap kamu cepat membaca surat ini dan mengunjungi rumahku J

You’re handsome bestfriend :P
Kenzie Javana

Aku baca kata kata terakhir “ You’re handsome bestfriend” itu dengan senyuman. Itu kata-kata yang sering dia katakan saat bersamaku. Tetapi, aku juga kaget bercampur dengan perasaan gembira setelah membaca surat dari Kenzie. Yang lebih penting lagi, sekarang aku tahu dimana  letak rumah Kenzie yang baru.
***
Ku kayuh sepedaku dengan riang gembira, melewati setiap memori kecil dan menuju rumah pohon kami. Saat mengayuh sepeda menaiki bukit, aku sudah bisa merasakan bersepeda bersama Kenzie sambil mendengar gemerisik dedaunan, menyanyikan lagu ciptaan kami, memanjat pohon bersama, dan kenangan indah lain yang selalu berbekas di hati ini.
Setelah kurang lebih 2 km dari rumah ku, aku sampai. Sampai di rumah pohon kesayangan kami. Kupanjat setiap anak tangga, untuk mencapai puncak teratas. Ku berdiri di pojok utara, tempat favoritku, untuk melihat rumah Kenzie. Kucari sebuah rumah dengan berhias warna merah disekitarnya. Kutemukan tempat itu. Sebuah bangunan sederhana, berhias warna merah di sekitarnya. Aku tahu, itu pasti rumah Kenzie.
Dengan perasaan tidak sabar untuk menemui Kenzie, ku turuni rumah pohon kami dan segera mengayuh sepeda ke arah rumah berhias mawar itu. Aku rasa, semua yang ada di sekitarku tersenyum padaku. Dedaunan, hembusan angin, sinar sang mentari, seolah tersenyum padaku. Katakan bahwa aku akan bertemu Kenzie.
Rumah dengan hiasan mawar itu, hanya 20 meter lagi dari pandanganku. Sungguh senang rasanya, bertemu seorang sahabat yang berpisah kurang lebih selama 7 tahun. Kesenangan ini melebihi seluruh kesenangan yang pernah aku dapatkan. “Aku akan bertemu Kenzie”, ucapku dalam hati.
Sampailah aku di rumah itu. Rumah sederhana dengan hiasan mawar yang indah itu. Aku tak sabar mengetuk pintu kayu utama. Ku ketuk pintu itu. Tak lama kemudian, sosok bunda Kenzie yang selalu tersenyum dan ramah padaku menyambut ku. “Lana, sudah lama sekali kamu tidak main kesini”, kata ibunda Kenzie sambil memelukku erat-erat. “Iya bunda, baru sempat pulang. Kenzie dimana bunda? Aku kangen”, kataku sambil tersenyum pada bunda Kenzie. “Ken..Kenzie.. Kamu tidak tahu Lana?”, kata bunda sambil terbata-bata.”Memang ada apa bunda?” jawabku dengan nada ingin tahu. “Kenzie sudah pergi, sayang. Maafkan bunda”, kata bunda sambil meneteskan air mata. ”Per..pergi kemana bunda?” ucapku sambil menoleh kepada bunda. “maafkan bunda sayang, Kenzie sudah kembali kepada sang pencipta”, ucap bunda sambil memelukku erat-erat. “kapan bunda? Kapan?” ucapku sambil menangis. “ kamu ingat surat Kenzie tanggal 2 januari 2007? Sebenarnya saat itu, penyakit kanker darah Kenzie sudah parah. Sudah lama dia menderita penyakit itu. Tetapi, baru waktu itu, penyakit kanker darah Kenzie kambuh. Karena Kenzie terlalu sayang padamu, dia ingin mengantar surat itu sendiri kerumahmu. Dia sudah tidak kuat dan dia mengatakan “Bunda tolong jaga Lana, jangan biarkan dia sedih, sendiri, aku ingin liat dia bahagia di surga. Tolong rawat rumah pohon kami bunda. Itulah tempat kesukaan kita untuk menghabiskan waktu bersama. Terimakasih bunda”. Tolong, jangan sedih, sayang. Kenzie di surga tak ingin melihat kamu menangis”, kata bunda sambil mengusap kedua air mata aku dan bunda. Aku tak bisa berkata apa-apa. Semua ini hanya bayang-bayang bagiku. Air mataku terus mengalir. Hingga aku putuskan, untuk pergi dari rumah Kenzie.
***
7 hari tepatnya, seluruh kejadian itu berlalu. Aku tak tahu kenapa seluruh kejadian ini menyedihkan. Kenzie hanyalah satu-satunya orang yang mampu membuat aku tegar. Namun mengapa, Tuhan selalu memisahkan orang yang aku sayang?
Aku menangis, menangis, dan menangis. Dulu, Kenzie lah yang biasanya meredam tangisku di saat aku tidak kuat dengan semua kejadian menyedihkan yang aku alami. Dia selalu ada untukku. Seperti bintang yang tak pernah tidur, selalu menerangi dan menjaga ku. Tapi sekarang, aku hanya bisa mengingat setiap kata, memori, perbuatan yang dilakukan Kenzie padaku. Semua itu, sebenarnya tak cukup untuk menebus seorang Kenzie. Kata-kata “ Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita, janganlah kita bersedih, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang” tak akan pernah aku dengar lagi dari mulut seorang Kenzie.
***
Kincir angin itu, selalu berputar diatas bukit yang indah ini. Bersandar diatas rerumputan hijau yang menjamur di setiap celah bukit . Merasakan hembusan angin yang bertiup menentramkan jiwa. Menyanyikan lagu persahabatan yang menemani diri ini. Memeluk Teddy yang akan selalu ada untukku. Mengenang setiap ucapan Kenzie yang tidak pernah sedikitpun aku lupakan. Melihat kembali, saat aku lari di bukit ini, melepas rasa sedih yang aku rasakan, dan pada akhirnya aku bertemu seorang Kenzie.
Setelah aku fikir segalanya, yang aku fikirkan di bukit tempat aku pertama kali mengenal sosok Kenzie ini, aku tau dia tidak pergi. Kenzie tidak pergi. Dia hanya menungguku di tempat lain, bukan di dunia yang fana ini. Di luar sana, aku bisa, aku bisa tinggal lebih lama bersama Kenzie. Tapi, waktu ini belum bisa mempertemukan aku dan Kenzie. Suatu waktu, di luar sana, aku tak akan pernah berpisah dengan satu-satunya orang yang bisa membuat aku kuat menghadapi hidup ini.               
Aku tak perlu bersedih lagi. Aku juga tau bahwa Kenzie tak ingin melihatku bersedih. Itu pesan Kenzie yang disampaikan saat terakhir dia harus pergi ke tempat di luar sana. Nanti, nanti aku pasti akan bertemu dengannya. Aku tahu sekarang, semua itu akan indah pada waktunya. Tuhan selalu memberi yang terbaik untukku dan Kenzie. Tuhan tau bahwa aku dan Kenzie hanya berpisah untuk sementara waktu saja. Dan akhirnya aku tahu, aku tahu apa itu arti sahabat yang sesungguhnya dan arti seorang Kenzie untuk ku.




by Mazaya Adani S ツ
Posted by Mazaya Adani S at 9:06 PM
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

2 comments:

  1. fj March 7, 2012 at 9:55 PM

    waaaaaaah kereeeeeeeeeen :''))
    tdk bisa berkata-kata, dibuat part 2 nya dongse dek! dgn kemunculan tokoh baru -> faza.. ekeke~

    ReplyDelete
    Replies
      Reply
  2. Mazaya Adani SMarch 8, 2012 at 2:30 PM

    makasih kaka :*

    ReplyDelete
    Replies
      Reply
Add comment
Load more...

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Green Crown

Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (12)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ▼  2012 (32)
    • ►  December (2)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ▼  March (4)
      • Only Hope-Mandy Moore ☺
      • SAD ♥
      • Swan Lake Ballet ♥
      • Heaven Between You And Me ツ
    • ►  February (9)

About Me

My photo
Mazaya Adani S
Yogyakarta, Java, Indonesia
A dreamer in my own fairytale
View my complete profile

Followers

Simple theme. Powered by Blogger.