Kincir itu.. berputar selaras
angin berhembus. Berputar dan terus berputar. Menyatukan merah,kuning, hijau
yang ada di situ. Tiupan angin di bukit itu, sudah lama tak kurasakan. Setelah 7
tahun kurang lebih, tak pernah aku kembali ke bukit ini. Semenjak aku harus
pergi untuk tinggal sementara bersama bunda. Di tempat ini aku teringat, ketika
aku berlari dan berlari untuk melampiaskan kesedihan karena orang tuaku tidak
bisa bersama lagi.
“Sudahlah Lana, janganlah kamu
menangis”, suara anak laki-laki berambut coklat yang tinggal tak jauh dari
bukit ini, tak pernah kulupakan. Namanya Kenzie, lebih tepatnya Kenzie Javana.
Dia adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin kembali ke bukit ini. Dia yang
bisa membuatku kembali tersenyum untuk melihat ke depan.
Kenzie dan aku selalu melakukan
hal bersama semenjak kita berteman. Dia mengajariku bagaimana bermain
layang-layang, mengajariku memanjat pohon, dan banyak hal lain yang telah dia
ajarkan kepadaku. “Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita,
janganlah kita bersedih, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki
sekarang” itu kata-kata Kenzie yang selalu menjadi pelajaran terbaik untukku.
Kau tahu? Kenzie juga memiliki
alur hidup yang hampir sama denganku. Orang tua Kenzie sudah tidak bisa tinggal
bersama lagi. Aku juga tahu, bagaimana sebenarnya hati Kenzie saat dia
mengetahui orang tuanya berpisah. Aku yakin perasaan itu seperti apa yang aku rasakan.
Berat rasanya menghadapi kejadian itu, dan kata-kata “ Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita, janganlah
kita bersedih, dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang” menjadi
penyemangat untukku hingga sekarang.
Berjalan menyusuri bukit ini,
membawaku kepada memori kecil saat aku melakukannya bersama Kenzie. Pohon-pohon
itu, bunga-bunga itu, rumput-rumput itu melambai-lambai kepadaku. Jalan ini
merupakan jalan yang ditunjukkan Kenzie kepadaku untuk menuju rumahnya. Sampai
sekarang, aku masih ingat betul dimana rumah Kenzie dan Bundanya yang selalu
baik kepadaku. Sambil menggendong Teddy, boneka dari Kenzie, aku mencari tempat
tinggal Kenzie. Aku sudah ingin sekali bertemu dengan Kenzie.
Kuputari tempat itu 8x untuk memastikan letak
rumah itu. Tetapi, apakah aku salah ? Kenapa rumah Kenzie tidak ada?
Rumah sederhana berhiaskan bunga
tulip disekitarnya dan juga beberapa pohon pinus disekitarnya, tak kunjung aku
temukan. Yang ada hanyalah tumpukan tanah yang rata. Aku bingung. Aku bingung
kenapa rumah itu tidak ada disitu. Aku berputar lagi mengitari tempat itu dan
aku pastikan bahwa itu letak rumah Kenzie 7 tahun yang lalu.
***
Semua
hal yang telah kutemui tadi membuatku bingung. Rumah itu yang telah membuatku
memutar otak berkali-kali. Jika benar Kenzie sudah tidak tinggal di rumah itu,
tapi mengapa Kenzie tak pernah memberitahu aku jika dia telah pindah ? apakah
dia lupa ?
Dialah
satu-satunya orang yang telah membuatku ingin kembali ke tempat ini. Aku rindu
senyumannya, aku rindu candanya, aku rindu apa saja yang ada pada dirinya.
Tapi, setelah aku kembali ke tempat ini, aku tak bisa menemuinya, tak bisa
mendengar suaranya, dan tak bisa memeluknya.
Aku
sedih, aku sedih kenapa aku harus merasakan sedih lagi setelah aku bisa
tersenyum. Kupeluk erat-erat Teddy pemberian Kenzie. Tak tahu kenapa air mata
mengalir dari kedua mata ini. Kenangan bersama Kenzie selalu muncul dalam tetes
air mata ini. Sungguh, aku rindu betul dengannya.
Ada
satu hal yang membuatku kuat. Kuhapus air mata di pipi ini, aku harus yakinkan
diriku bahwa aku bisa menemukan Kenzie. Aku bisa bertemu, berbincang, dan
bercanda dengannya lagi. Aku yakin itu. Aku yakin.
***
Aku
mengayuh sepeda ungu pemberian ayah. Bersama Teddy, aku akan mencari Kenzie
kembali. Suara gemerisik dedaunan jati itu, tak pernah asing bagiku. Dulu,
bersama Kenzie, Aku sering bersepeda menuruni bukit dan mendengar gemerisik
dedaun cemara itu. Ya, hal itu mengingatkan aku kembali kepada Kenzie. Aku
harus menemuinnya!
Aku
pergi menuju rumah pohon yang dulu kami buat bersama. Ya, rumah pohon itu.
Rumah pohon yang dikelilingi rerumputan hijau yang sangat indah. Tempat itu
menjadi tempat favorit aku dan Kenzie. Dulu, kami banyak menghabiskan waktu di tempat
itu untuk bermain, bercerita, tertawa, dan menangis.
“Arrived!”,
ucapku. Sampailah aku di rumah pohon tempat kami biasa menghabiskan waktu.
Tempat ini masih sama seperti sebelum aku pergi 7 tahun lalu. Tempat ini bersih
dan tata ruangnya masih sama seperti dulu. Foto-foto saat kami bersama, masih
terpapang di dinding kayu. Di pojok utara itu, tempat favoritku untuk bersandar
melihat rerumputan hijau di sekitar. Aku senang, senang sekali. Aku senang
dapat kembali ke tempat favorit kami yang masih indah setelah lama
kutinggalkan. Aku yakin, Kenzie telah merawat tempat ini agar tidak rusak dan
aku yakin jika Kenzie belum lama pergi.
Aku
duduk di pojok utara rumah pohon itu, dan aku teringat akan lagu yang kami
buat. Lagu itu membawaku mengingat kejadian yang kami lewati bersama
I always be with you my friend..
I will never leave you alone, never leave
you
I promise you, don’t go a way althought we
are a part
Sometimes we walk alone, but belive our
promise
that we always be best friend forever
Ku
nyanyikan lagu itu berulang-ulang. Setelah kupikir, lagu itu... lagu itu dapat
membuatku tertawa dan senang. Aku ingat saat kami buat lagu itu, tidak dapat
sedikitpun kita berhenti tertawa. Kita buat lagu itu saat kita bersandar di
pohon pinus dekat rumah Kenzie. Kenzie lah yang mengajakku membuat lagu tentang
kami.
Setelah
aku berhenti tertawa, aku ingat akan tujuanku menghampiri rumah pohon ini. Di rumah
pohon itu, aku mencari petunjuk. Mungkin, aku bisa menemukan tempat tinggal
Kenzie di situ. Aku tersenyum seketika ketika melihat kotak rahasia kami
berdua. Kotak kayu itu aku buka. Seketika aku tertawa. Aku melihat banyak
rahasia kami yang kami tulis di kotak itu. Ini membuat aku dan Kenzie selalu
terbuka dan tak pernah ada rahasia di antara kami.
Dari
pojok utara ke selatan, aku tidak menemukan satupun petunjuk yang dapat membawaku
ke Kenzie. Aku sedih. Aku tidak dapat menemukan Kenzie lagi. Dimana dia
sekarang? Kenapa kau tidak memberitahu aku?
***
Aku
kembali ke bukit tempat biasa kami menghabiskan waktu. Bersandar di rerumputan
bukit, memandang kincir yang berputar, mendengar gemerisik dedaunan,
menyanyikan lagu buatan kami, itulah hal yang aku lakukan. Setidaknya, aku bisa
merasakan Kenzie berada di dekatku. Bersamaku melakukan hal yang biasa kami
lakukan bersama.
Aku
terbangun dari rerumputan itu. Aku berdiri dan menghirup nafas panjang.“Kenzie,
apakah kau mendengar suaraku? Dimana kamu? Kenapa kamu tak pernah memberitahu
aku kenapa kamu pergi? Kenapa?” aku teriak sambil menyebut kalimat itu.
Dedaunan bergemerisik lebih kencang. Gemerisik dedaunan itu, aku yakin Kenzie mendengar
suaraku.
Aku tersenyum
kepada dedaunan yang telah menyampaikan jawaban Kenzie kepadaku. Kudekap Teddy
erat-erat, aku bayangkan itu adalah Kenzie Javana, sahabatku. Aku merasakan
jika Teddy juga tersenyum padaku.
***
Tepatnya
sudah seminggu aku mencari Kenzie. Aku luangkan hari itu untuk membersihkan
kamar yang sudah kutinggal selama kurang lebih 7 tahun itu. Kurapikan selimut,
meja belajar, dan rak buku. Kupandangi foto bersama kedua orang tuaku. Aku
harap, aku bisa merasakan dekapan mereka berdua. Kuteruskan membereskan kamar
tidur sewaktu aku kecil. Saat kubuka rak meja belajarku, kulihat sepucuk surat
berwarna biru muda. Surat biru muda yang aku dapat, biasanya dikirim oleh
Kenzie, dan aku lihat surat itu belum kubuka. Kenapa aku merasa tidak pernah
menerima surat ini? Tapi, hal itu hanya terlintas dan hilang dibenakku. Dengan
segera, aku membuka surat biru muda yang aku yakin bahwa Kenzie lah yang
mengirimkannya.
2 Januari 2007
Dear my beloved bestfriend
Lana Kirana
Hey Lana! Apa kabar
? aku harap kamu sehat selalu disana. Aku dan bunda di sini sehat-sehat saja.
Apakah wajahmu
berbeda? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku yakin kamu sudah bertambah tinggi
menyamai tinggiku sekarang. Aku harap, jika kita bertemu, aku tidak lupa
denganmu.
Lana, aku mau
ngasih tau, aku sudah pindah. Rumahku berhias bunga mawar sekarang. Merah
dimana-mana. Aku rasa, rumahku seperti ketumpahan banyak sekali bunga mawar. Walaupun
begitu, Aku suka dengan rumahku sekarang J
Rumahku masih
terletak di sekitar bukit tempat kita selalu bermain bersama. Jika dilihat dari
rumah pohon kita, arahnya ada di pojok utara, tempat favoritmu.
Aku ingin sekali bertemu denganmu. Sungguh.
Aku harap kamu cepat membaca surat ini dan
mengunjungi rumahku J
You’re handsome bestfriend :P
Kenzie Javana
Aku
baca kata kata terakhir “ You’re handsome bestfriend” itu dengan senyuman. Itu
kata-kata yang sering dia katakan saat bersamaku. Tetapi, aku juga kaget
bercampur dengan perasaan gembira setelah membaca surat dari Kenzie. Yang lebih
penting lagi, sekarang aku tahu dimana letak rumah Kenzie yang baru.
***
Ku
kayuh sepedaku dengan riang gembira, melewati setiap memori kecil dan menuju
rumah pohon kami. Saat mengayuh sepeda menaiki bukit, aku sudah bisa merasakan
bersepeda bersama Kenzie sambil mendengar gemerisik dedaunan, menyanyikan lagu
ciptaan kami, memanjat pohon bersama, dan kenangan indah lain yang selalu
berbekas di hati ini.
Setelah
kurang lebih 2 km dari rumah ku, aku sampai. Sampai di rumah pohon kesayangan
kami. Kupanjat setiap anak tangga, untuk mencapai puncak teratas. Ku berdiri di
pojok utara, tempat favoritku, untuk melihat rumah Kenzie. Kucari sebuah rumah
dengan berhias warna merah disekitarnya. Kutemukan tempat itu. Sebuah bangunan
sederhana, berhias warna merah di sekitarnya. Aku tahu, itu pasti rumah Kenzie.
Dengan
perasaan tidak sabar untuk menemui Kenzie, ku turuni rumah pohon kami dan
segera mengayuh sepeda ke arah rumah berhias mawar itu. Aku rasa, semua yang ada
di sekitarku tersenyum padaku. Dedaunan, hembusan angin, sinar sang mentari,
seolah tersenyum padaku. Katakan bahwa aku akan bertemu Kenzie.
Rumah
dengan hiasan mawar itu, hanya 20 meter lagi dari pandanganku. Sungguh senang
rasanya, bertemu seorang sahabat yang berpisah kurang lebih selama 7 tahun. Kesenangan
ini melebihi seluruh kesenangan yang pernah aku dapatkan. “Aku akan bertemu
Kenzie”, ucapku dalam hati.
Sampailah
aku di rumah itu. Rumah sederhana dengan hiasan mawar yang indah itu. Aku tak
sabar mengetuk pintu kayu utama. Ku ketuk pintu itu. Tak lama kemudian, sosok
bunda Kenzie yang selalu tersenyum dan ramah padaku menyambut ku. “Lana, sudah
lama sekali kamu tidak main kesini”, kata ibunda Kenzie sambil memelukku
erat-erat. “Iya bunda, baru sempat pulang. Kenzie dimana bunda? Aku kangen”, kataku
sambil tersenyum pada bunda Kenzie. “Ken..Kenzie.. Kamu tidak tahu Lana?”, kata
bunda sambil terbata-bata.”Memang ada apa bunda?” jawabku dengan nada ingin
tahu. “Kenzie sudah pergi, sayang. Maafkan bunda”, kata bunda sambil meneteskan
air mata. ”Per..pergi kemana bunda?” ucapku sambil menoleh kepada bunda.
“maafkan bunda sayang, Kenzie sudah kembali kepada sang pencipta”, ucap bunda
sambil memelukku erat-erat. “kapan bunda? Kapan?” ucapku sambil menangis. “
kamu ingat surat Kenzie tanggal 2 januari 2007? Sebenarnya saat itu, penyakit
kanker darah Kenzie sudah parah. Sudah lama dia menderita penyakit itu. Tetapi,
baru waktu itu, penyakit kanker darah Kenzie kambuh. Karena Kenzie terlalu
sayang padamu, dia ingin mengantar surat itu sendiri kerumahmu. Dia sudah tidak
kuat dan dia mengatakan “Bunda tolong
jaga Lana, jangan biarkan dia sedih, sendiri, aku ingin liat dia bahagia di
surga. Tolong rawat rumah pohon kami bunda. Itulah tempat kesukaan kita untuk
menghabiskan waktu bersama. Terimakasih bunda”. Tolong, jangan sedih,
sayang. Kenzie di surga tak ingin melihat kamu menangis”, kata bunda sambil
mengusap kedua air mata aku dan bunda. Aku tak bisa berkata apa-apa. Semua ini
hanya bayang-bayang bagiku. Air mataku terus mengalir. Hingga aku putuskan,
untuk pergi dari rumah Kenzie.
***
7 hari
tepatnya, seluruh kejadian itu berlalu. Aku tak tahu kenapa seluruh kejadian
ini menyedihkan. Kenzie hanyalah satu-satunya orang yang mampu membuat aku
tegar. Namun mengapa, Tuhan selalu memisahkan orang yang aku sayang?
Aku
menangis, menangis, dan menangis. Dulu, Kenzie lah yang biasanya meredam
tangisku di saat aku tidak kuat dengan semua kejadian menyedihkan yang aku
alami. Dia selalu ada untukku. Seperti bintang yang tak pernah tidur, selalu
menerangi dan menjaga ku. Tapi sekarang, aku hanya bisa mengingat setiap kata,
memori, perbuatan yang dilakukan Kenzie padaku. Semua itu, sebenarnya tak cukup
untuk menebus seorang Kenzie. Kata-kata “
Kita pasti bisa melewati apa aja yang menghalangi kita, janganlah kita bersedih,
dan tetaplah bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang” tak akan
pernah aku dengar lagi dari mulut seorang Kenzie.
***
Kincir
angin itu, selalu berputar diatas bukit yang indah ini. Bersandar diatas
rerumputan hijau yang menjamur di setiap celah bukit . Merasakan hembusan angin
yang bertiup menentramkan jiwa. Menyanyikan lagu persahabatan yang menemani
diri ini. Memeluk Teddy yang akan selalu ada untukku. Mengenang setiap ucapan
Kenzie yang tidak pernah sedikitpun aku lupakan. Melihat kembali, saat aku lari
di bukit ini, melepas rasa sedih yang aku rasakan, dan pada akhirnya aku
bertemu seorang Kenzie.
Setelah
aku fikir segalanya, yang aku fikirkan di bukit tempat aku pertama kali
mengenal sosok Kenzie ini, aku tau dia tidak pergi. Kenzie tidak pergi. Dia
hanya menungguku di tempat lain, bukan di dunia yang fana ini. Di luar sana,
aku bisa, aku bisa tinggal lebih lama bersama Kenzie. Tapi, waktu ini belum
bisa mempertemukan aku dan Kenzie. Suatu waktu, di luar sana, aku tak akan pernah
berpisah dengan satu-satunya orang yang bisa membuat aku kuat menghadapi hidup
ini.
Aku
tak perlu bersedih lagi. Aku juga tau bahwa Kenzie tak ingin melihatku
bersedih. Itu pesan Kenzie yang disampaikan saat terakhir dia harus pergi ke
tempat di luar sana. Nanti, nanti aku pasti akan bertemu dengannya. Aku tahu
sekarang, semua itu akan indah pada waktunya. Tuhan selalu memberi yang terbaik
untukku dan Kenzie. Tuhan tau bahwa aku dan Kenzie hanya berpisah untuk
sementara waktu saja. Dan akhirnya aku tahu, aku tahu apa itu arti sahabat yang
sesungguhnya dan arti seorang Kenzie untuk ku.
by Mazaya Adani S ツ
by Mazaya Adani S ツ
waaaaaaah kereeeeeeeeeen :''))
ReplyDeletetdk bisa berkata-kata, dibuat part 2 nya dongse dek! dgn kemunculan tokoh baru -> faza.. ekeke~
makasih kaka :*
ReplyDelete