-->
Air

Tuesday, March 19, 2013

Bebas


Selamat datang ku ucapkan pada diriku yang menyambut indahnya dunia baru. Nyanyian burung-burung bak alunan surga di senja kala itu memperindah seluruhnya. Aku yang baru saja terlahir kesini sadar mengapa aku ada. Ada suatu tujuan, tujuan mulia sebenarnya, membantu laki-laki itu yang telah lanjut usia. Dia yang menciptakanku dan aku akan balas budi.
                Aku, Si Merah, adalah satu dari sekian banyak yang diciptakannya. Terlahir dengan tak memiliki apa-apa dan tanpa anggota gerak. Hanya aku, yang bernilai tapi tak terlalu berharga. Bukan ratusan ribu atau jutaan yang bisa diperoleh dariku, hanya sebagian kecil saja.
                Lelaki lanjut usia itu telah ku anggap layaknya ayahku sendiri. Beliau merawatku serta saudarku yang lain.Menempatkan kami pada tempat yang nyaman dan terlindung dari terik matahari serta air hujan. Kami masih seperti bayi, belum dewasa yang masih butuh perlindungan. Suatu saat nanti, umur dewasa kami akan kami raih dan kami tak akan merepotkan yang kami anggap sebagai ayah.
                Hari demi hari terlewati. Setiap hari yang aku nikmati di dunia ini tak pernah ku dustai akan rasa syukur kepada Tuhan yang meridhoi ku untuk ada di dunia. Aku hanya sesuatu yang tak berharga  dan akan lebih hina jika aku tak mengagumi indah ciptaan-Nya.
                Inilah waktuku. Waktuku dimana aku telah dewasa. Aku bukan sesuatu yang kecil dan tak berdaya, aku adalah sesuatu yang besar dan memiliki kekuatan. Saat ini yang aku tunggu, “Bebas” namanya. Layaknya burung-burung yang berterbangan di lembar biru yang tak berujung. Ini lah saatnya.
                Lelaki lanjut usia itu sungguh dermawan. Ia membuatkanku sebuah kaki bersepatu abu-abu. Walau bukan kaki yang sesungguhnya dan hanya sebuah, itu sungguh berharga bagiku. Kaki ini bukan terbuat dari emas ataupun barang mahal lainnya,hanya sebuah tali putih. Sepatu abu-abu yang dipasangkan di kakiku telah membantu kaki ini untuk menopang tubuh dan membawa jalan tanpa aku harus merasakan sakit oleh duri yang sekiranya akan aku injak.
                Sekarang. Aku akan pergi kedunia luar dengan dituntun oleh ayahku yang sangat baik ini. Hijau-hijauan menghiasi tempatku berpijak. Kapas-kapas putih yang lembut bersandar diatas lembar biru tak berujung. Pak Mas dan Bu Mas berenang pada kolam biru nan tenang. Seketika, aku ingat akan tujuanku diciptakan. Membantu laki-laki lanjut usia ini.
                Dan tiba saat penantian. Sebelum itu haruslah dilewati dengan prosedur menggu seperti yang lain. Tapi, menunggu saat yang tepat bukan lah hal yang mudah. Terik matahari adalah musuh kami, begitu juga dengan sapaan cepat laju angin. Disini, aku masih kuat menunggu saatku balas budi.
                Seorang bapak, ibu, dan anak kecil perempuannya tersenyum kearahku. “Inikah saat yang tepat ?”, gumamku dalam hati. Aku berdiri dengan tegak dan seolah bersinar, caraku menarik perhatian si kecil. Rupa-rupanya, si putri kecil itu tertarik kepadaku, merengek pada orang tuanya untuk mendekat ke arahku. Mendekat, dekat, dan semakin dekat hingga si kecil berada di sampinglku. Senyuman manis dari bibirku tak pernah ku gulung.
                Beberapa saat kemudian, orang tua ini merekrutku untuk menjadi teman bermain sang putri kecil. Bangga pada diriku sendiri seketika muncul. Ini lah waktuku balas budi. Lelaki lanjut usia itu tersenyum kepada mereka dan juga aku. Jujur, aku sedih akan meninggalkan ayahku, tapi inilah satu-satunya cara untuk membantunya. Imbalan dari sepasang orang tua itu diberikan dengan senyum senang kepada ayahku. Bangga.
                Aku hilang bersama keluarga baruku menuju tempat dimana sang putri kecil biasa bersenang-senang, taman kota. Ada teman baru lagi ternyata. Namanya Ibu Beruang. Gaun putih dengan renda yang mempercantik gaunnya membuat Ia terlihat sempurna. Kami bertiga bermain bersama dengan penuh keriangan. Canda tawa selalu kami lontarkan pada setiap saat kami bermain.
                Kami lelah. Aku memutuskan untuk singgah sejenak pada kursi taman pada bawah pohon  yang rindang itu. Sendirian. Melihat sang putri tersenyum adalah bagian dari kebahagiaanku sekarang ini. Bersama orang tuanya juga adalah satu dari keluarga baruku.
                Tanpa kusadari, lelah ini membawaku tertidur sejenak pada bangku ini. Damai rasanya, dapat tidur pada suasana penuh senyum seperti ini. Entah aku bermimpi apa, aku melepaskan sepatuku dan aku pergi. Pergi menuju cakrawala biru yang sangat aku kagumi. Inilah yang namanya bebas. Disini aku berteriak, “ Dunia, ini lah aku Si Merah. Walaupun aku hanya sebuah balon, tapi aku mampu membuat orang lain bahagia seperti aku bahagia melihat indahmu”.

Posted by Mazaya Adani S at 9:50 PM
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Green Crown

Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  April (1)
  • ▼  2013 (12)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
    • ▼  March (4)
      • Like snowflakes, the human pattern is never cast t...
      • Bebas
      • Kesalahan terbesar manusia a...
      • An hour, owl
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (32)
    • ►  December (2)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (3)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (9)

About Me

My photo
Mazaya Adani S
Yogyakarta, Java, Indonesia
A dreamer in my own fairytale
View my complete profile

Followers

Simple theme. Powered by Blogger.