Selamat datang ku ucapkan pada
diriku yang menyambut indahnya dunia baru. Nyanyian burung-burung bak alunan
surga di senja kala itu memperindah seluruhnya. Aku yang baru saja terlahir
kesini sadar mengapa aku ada. Ada suatu tujuan, tujuan mulia sebenarnya,
membantu laki-laki itu yang telah lanjut usia. Dia yang menciptakanku dan aku
akan balas budi.
Aku, Si
Merah, adalah satu dari sekian banyak yang diciptakannya. Terlahir dengan tak
memiliki apa-apa dan tanpa anggota gerak. Hanya aku, yang bernilai tapi tak
terlalu berharga. Bukan ratusan ribu atau jutaan yang bisa diperoleh dariku,
hanya sebagian kecil saja.
Lelaki
lanjut usia itu telah ku anggap layaknya ayahku sendiri. Beliau merawatku serta
saudarku yang lain.Menempatkan kami pada tempat yang nyaman dan terlindung dari
terik matahari serta air hujan. Kami masih seperti bayi, belum dewasa yang
masih butuh perlindungan. Suatu saat nanti, umur dewasa kami akan kami raih dan
kami tak akan merepotkan yang kami anggap sebagai ayah.
Hari
demi hari terlewati. Setiap hari yang aku nikmati di dunia ini tak pernah ku
dustai akan rasa syukur kepada Tuhan yang meridhoi ku untuk ada di dunia. Aku
hanya sesuatu yang tak berharga dan akan
lebih hina jika aku tak mengagumi indah ciptaan-Nya.
Inilah
waktuku. Waktuku dimana aku telah dewasa. Aku bukan sesuatu yang kecil dan tak
berdaya, aku adalah sesuatu yang besar dan memiliki kekuatan. Saat ini yang aku
tunggu, “Bebas” namanya. Layaknya burung-burung yang berterbangan di lembar
biru yang tak berujung. Ini lah saatnya.
Lelaki
lanjut usia itu sungguh dermawan. Ia membuatkanku sebuah kaki bersepatu
abu-abu. Walau bukan kaki yang sesungguhnya dan hanya sebuah, itu sungguh
berharga bagiku. Kaki ini bukan terbuat dari emas ataupun barang mahal
lainnya,hanya sebuah tali putih. Sepatu abu-abu yang dipasangkan di kakiku
telah membantu kaki ini untuk menopang tubuh dan membawa jalan tanpa aku harus
merasakan sakit oleh duri yang sekiranya akan aku injak.
Sekarang.
Aku akan pergi kedunia luar dengan dituntun oleh ayahku yang sangat baik ini.
Hijau-hijauan menghiasi tempatku berpijak. Kapas-kapas putih yang lembut
bersandar diatas lembar biru tak berujung. Pak Mas dan Bu Mas berenang pada
kolam biru nan tenang. Seketika, aku ingat akan tujuanku diciptakan. Membantu laki-laki
lanjut usia ini.
Dan
tiba saat penantian. Sebelum itu haruslah dilewati dengan prosedur menggu
seperti yang lain. Tapi, menunggu saat yang tepat bukan lah hal yang mudah.
Terik matahari adalah musuh kami, begitu juga dengan sapaan cepat laju angin. Disini,
aku masih kuat menunggu saatku balas budi.
Seorang
bapak, ibu, dan anak kecil perempuannya tersenyum kearahku. “Inikah saat yang
tepat ?”, gumamku dalam hati. Aku berdiri dengan tegak dan seolah bersinar,
caraku menarik perhatian si kecil. Rupa-rupanya, si putri kecil itu tertarik
kepadaku, merengek pada orang tuanya untuk mendekat ke arahku. Mendekat, dekat,
dan semakin dekat hingga si kecil berada di sampinglku. Senyuman manis dari
bibirku tak pernah ku gulung.
Beberapa
saat kemudian, orang tua ini merekrutku untuk menjadi teman bermain sang putri
kecil. Bangga pada diriku sendiri seketika muncul. Ini lah waktuku balas budi.
Lelaki lanjut usia itu tersenyum kepada mereka dan juga aku. Jujur, aku sedih
akan meninggalkan ayahku, tapi inilah satu-satunya cara untuk membantunya.
Imbalan dari sepasang orang tua itu diberikan dengan senyum senang kepada
ayahku. Bangga.
Aku
hilang bersama keluarga baruku menuju tempat dimana sang putri kecil biasa
bersenang-senang, taman kota. Ada teman baru lagi ternyata. Namanya Ibu
Beruang. Gaun putih dengan renda yang mempercantik gaunnya membuat Ia terlihat
sempurna. Kami bertiga bermain bersama dengan penuh keriangan. Canda tawa
selalu kami lontarkan pada setiap saat kami bermain.
Kami
lelah. Aku memutuskan untuk singgah sejenak pada kursi taman pada bawah
pohon yang rindang itu. Sendirian.
Melihat sang putri tersenyum adalah bagian dari kebahagiaanku sekarang ini. Bersama
orang tuanya juga adalah satu dari keluarga baruku.
Tanpa
kusadari, lelah ini membawaku tertidur sejenak pada bangku ini. Damai rasanya,
dapat tidur pada suasana penuh senyum seperti ini. Entah aku bermimpi apa, aku
melepaskan sepatuku dan aku pergi. Pergi menuju cakrawala biru yang sangat aku
kagumi. Inilah yang namanya bebas. Disini aku berteriak, “ Dunia, ini lah aku
Si Merah. Walaupun aku hanya sebuah balon, tapi aku mampu membuat orang lain
bahagia seperti aku bahagia melihat indahmu”.
No comments:
Post a Comment